Selasa, 24 April 2018

[Booklicious] Living in Virtual Reality

Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, masa depan dalam bentuk virtual semakin nyata. Apakah ini sesuatu yang baik atau buruk? Yang kita tahu, kita tidak bisa menghentikan perubahan, kita hanya bisa beradaptasi dan berenang dalam arus perubahan. Penulis-penulis berikut ini juga telah 'menerawang' potensi dan resiko dari realitas virtual. Mungkin kalian ingin tahu? 





1. Sprawl Trilogy oleh William Gibson

Lebih dikenal dengan Neuromancer atau Matrix Trilogy, William Gibson adalah yang penulis pertama yang menulis teknologi realitas virtual dengan menggunakan goggle (alat berbentuk seperti helm) untuk masuk ke dalam dunia maya. Dalam Sprawl Trilogy, terdapat perusahaan besar dan teknologi canggih yang berlatar belakang di masa depan setelah perang dunia ketiga. Case adalah seorang pencuri data (hacker) yang disewa oleh orang misterius untuk menaklukan sistem A.I. yang adikuasa. Case sendiri lumpuh sehingga dia harus dibantu beberapa orang untuk menuntaskan misinya. Akan tetapi AI yang menjadi lawannya menguasai dunia maya, bagaimana cara Case mengalahkannya, ketika masuk ke dunia Matrix berarti ancaman dimana-mana? 


Dalam buku ini Gibson menerangkan secara serius konsekuensi-konsekuensi dari perkembangan teknologi yang 'kebablasan'. Meski disebut trilogi, serial ini bisa dibaca terpisah per buku tanpa perlu kesal dengan akhir yang menggantung. Tokoh-tokoh utama dalam buku sebelumnya belum tentu muncul dalam buku selanjutnya. Neuromancer pernah diterbitkan secara ekslusif oleh penerbit Jalasutra pada tahun 2010. Akankah dicetak ulang demi para fans scifi dan futurisme? Hehe





2. Ready Player One oleh Ernest Cline

Yang lagi hot akhir-akhir ini adalah Ready Player One. Mengambil konsep yang hampir sama dengan Neuromancer, Ernest Cline menunjukkan masa depan yang begitu dekat dengan kita mengingat goggle VR sudah bermunculan. Khususnya bagi para gamer. Wade, bocah remaja yang hidup di wilayah kumuh tahun 2045, mencari pelarian di dunia maya bernama Oasis. Kamu bisa melakukan apa saja di Oasis dan bisa menjadi siapa saja dengan mudah. Virtual Reality Game ini diciptakan oleh seorang jenius James Halliday, yang kemudian meninggal lalu memberikan warisan atas kepemilikan Oasis pada siapa saja yang bisa menyelesaikan tantangan darinya.


Tantangan tersebut berupa tiga buah kunci yang disembunyikan dalam Oasis dan para peserta harus memecahkan teka-teki pop culture (tahun 70-80an) yang disukai Halliday. Tentu saja ini membuat siapapun bersemangat mendapatkannya, termasuk perusahaan game saingan Halliday. Wade dkk harus berlomba dengan anak buah perusahaan tersebut untuk menentukan masa depan para gamer.
Buku ini sudah diterjemahkan Gramedia Pustaka Utama dan berupa stand alone, jadi kita nggak perlu nunggu lama untuk membaca sekuelnya. Akan tetapi Ernest Cline bilang bahwa dia akan menerbitkan sequelnya. Nah lho, excited gak?



3. Erebos oleh Ursula Poznanski

Erebos adalah sebuah game yang secara misterius beredar di kalangan remaja. Tidak dijual di toko-toko dan tidak ada yang mau membicarakannya meskipun mereka ikut memainkannya. Nick yang tadinya hanya curiga dan penasaran, ikut dikirimi CD game tersebut. Awalnya Nick terkesima dengan detil-detil grafis pada game, betapa semuanya tampak nyata, bahkan gerakan para pemain lain. Yang tadinya hanya rasa penasaran biasa dan Nick masih waspada agar tidak terlalu 'tercemplung' terlalu dalam pada game (kita tahu betapa game bisa membuat kita jadi ketagihan), Nick kini terobsesi. Belum lagi misi-misi yang diberikan karakter bukan-pemain dalam game tidak melulu harus dikerjakan di dalam game. Misi tersebut juga diberikan agar diselesaikan dalam dunia nyata. Tapi setelah separuh jalan bermain, misi yang diberikan karakter tersebut sangat aneh dan Nick membutuhkan bantuan. Buku ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Austria, karena penulisnya berasal dari Vienna, Austria. Tidak ada sequelnya dan sudah diterjemahkan Mizan Fantasi pada tahun 2015. 

4. Warcross Dwilogy oleh Marie Lu

Konsep buku ini mirip dengan Ready Player One. Dunia maya-nya disebut Warcross, sebuah game dengan pengguna berjumlah jutaan. Beberapa pengguna hanya ingin melarikan diri dari dunia nyata yang gelap, sebagian lain ingin mencari untung. Emika Chen adalah seorang hacker yang memburu para pengguna Warcross yang melakukan kegiatan ilegal seperti berjudi. Namun pekerjaannya punya banyak saingan sehingga dia harus berlomba dengan hackers lain. Saat itulah tanpa sengaja Emika masuk ke dalam Turnamen Warcross Internasional dan aksinya menjadi buah bibir. Ketika dirinya mengira karirnya berakhir, dia dihubungi seorang bilyuner muda, Hideo Tanaka, pemilik Warcross. Hideo menyewa jasanya untuk masuk ke dalam sistem pengaman Warcross dan mencari penyusup. Tapi dia segera menemukan hal lain yang lebih berbahaya. Dalam waktu dekat, buku ini akan segera diterbitkan oleh Mizan Fantasi. Berupa dwilogi, sekuelnya yang berjudul Wildcard, masih dalam tahap penulisan oleh Marie Lu. Semoga tidak terlalu lama ya~  


5. The Mortality Doctrine Trilogy oleh James Dashner
The Mortality Doctrine menyajikan tema yang sama seperti Warcross dan Ready Player One. Dunia maya dalam buku ini disebut VirtNet, dimana pengguna menghabiskan banyak waktu di dalamnya ketimbang di dunia nyata. Jika memiliki banyak uang, pengguna bisa melakukan apa saja di dalam VirtNet. Tapi bagi hackers, dunia maya ini lebih mengasyikkan karena bisa melawan aturan-aturan yang dibuat dalam game untuk kenyamanan pengguna lain. Game yang tadinya asyik ini mulai tampak berbahaya ketika seorang pengguna menyandera pengguna lain dalam VirtNet, dan di dunia nyata pengguna yang disandera tersebut mengalami mati otak atau koma.


Tidak diketahui motif sang pelaku tapi dia mengancam keselamatan pengguna lain. Pemerintah pun bergerak untuk menangkap sang pelaku. Tetapi untuk menangkap hackers ini, mereka membutuhkan hackers lain, maka mereka pun menyewa jasa Michael yang sudah diawasi pemerintah atas sepak terjangnya di VirtNet. Kini dia masuk ke dalam jaringan VirtNet yang berbeda dan jauh lebih berbahaya dari yang disangka. Bisakah Michael menemukan pelakunya dan membuat VirtNet jadi terkendali lagi? Dibuat menjadi serial trilogi, The Eye of Minds sudah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2016 dan belum tahu apakah akan dilanjutkan atau tidak. 



Gimana? Tertarik? ;)

1 komentar: