Ulasan Buku : Firefight

Judul asli : Firefight (The Reckoners Trilogy #2)
Judul terjemahan : -
Pengarang : Brandon Sanderson
Penerjemah : Putra Nugroho
Penerbit : Nourabooks
Tahun terbit : September 2016
Jumlah halaman : 584 halaman
Setelah pertarungan luar biasa keren melawan Steelheart di buku pertama (berjudul Steelheart, terbit di tahun 2016 ini juga), David tak lagi berpikiran sama tentang para Epik. Menurut David, Mereka semua hanyalah korban dari kekuatan mereka sendiri. Dan mungkin saja, para Epik masih bisa diselamatkan dari sifat mereka yang cenderung merusak dan membunuh itu. Kalau saja mereka mau untuk tidak menggunakan kekuatan mereka untuk beberapa lama. Mungkin saja mereka bisa normal, seperti hal nya orang-orang terdekat yang David kenal dengan baik.
Epik sejatinya adalah manusia berkekuatan super yang diberi anugerah setelah terjadinya Calamity, semacam radiasi benda langit yang membuat orang-orang tertentu memiliki kekuatan di luar manusia biasa. Sayangnya, para Epik ini malah terkorupsi oleh kekuatan itu sehingga mereka menjadi jahat dan egois. Dan untuk itulah Reckoners ada, bersama David di dalamnya yang memiliki misi menghancurkan dan mencari kelemahan para Epik.
Setting Firefight kali ini tak hanya berada di New Cago, kota yang menjadi jajahan Steelheart. Tapi kita juga akan berkenalan dengan kota baru bernama Babilar alias Babylonia Restored alias Manhattan. Babilar adalah sebuah kota yang menarik dan memiliki Epik tiran sendiri, Regalia. Aura kelamnya berbeda dari New Cago. Babilar mengingatkan kita seperti bagian awal dari film X-Men : Days Of Future Past. Disinilah David dan tim mesti memutar otak dan berpacu dengan waktu untuk menghadapi Regalia dan rekan-rekan Epiknya yang tak kalah mahadaya, seperti Newton dan Obliteration dengan kemampuan super pemusnah massal.
Rancang bangun di Babilar dan jalan cerita beserta plot twist nya, mampu membuat kita terperangah. Seri The Reckoners adalah bacaan sci-fi menggugah yang keren dan futurisitik. Selain itu, entah kenapa, membaca buku ini seolah-olah bisa kita bayangkan bagaimana tampilan sinematografisnya bila difilmkan. Jelas menjadi bacaan yang direkomendasikan bagi para penggemar novel fantasi dan tentunya fiksi ilmiah plus ada hawa-hawa distopia dan post apocalyptic.
Buku terakhir, CALAMITY telah terbit edisi aslinya. Semoga segera diterjemahkan ya. Dan jangan lupa koleksi Steelheart dan Firefight dalam lemari bukumu !!
Ditulis oleh : Lathifah Thifa dan Greeny Onie

Komentar