Kenapa Membaca Novel Fiksi

Pernah nggak sih denger temen-temen atau keluarga berkomentar "Jangan kebanyakan baca buku!" atau "kalo baca buku yang lebih bermanfaat, jangan khayalan mulu." . Pasti ada banyak kalimat serupa yang terlontar seolah-olah kita hanya membuang-buang waktu saja membaca buku padahal kita bisa belajar, berolahraga, atau bahkan menciptakan vaksin kanker (eh?). Sayangnya, memang masih banyak orang yang merasa membaca buku itu sia-sia, atau kalaupun membaca sebaiknya baca buku-buku yang bisa meningkatkan keahlian seperti buku-buku teknis, misalnya cara mendapatkan 1 milyar dalam 1 bulan, atau buku-buku motivasi pengembangan diri, dan buku-buku religi. Sebenarnya tidak ada salahnya membaca buku-buku tersebut karena buku-buku tersebut memang dapat memberi manfaat terutama jika bisa menerapkannya dengan benar. Tetapi, bukan berarti buku-buku fiksi tidak ada manfaatnya juga. Jadi, ini beberapa manfaat yang bisa Penfi kumpulkan dari para pembaca:



1. Meningkatkan Kemampuan Berbahasa


Kita akui saja, sekolah 12 tahun tidak cukup membuat kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Setiap komunikasi yang kita lakukan, lebih seringnya adalah informal. Yang berarti, tidak ada struktur kalimat yang baik dan tercampur dengan bahasa gaul demi menimbulkan kesan akrab atau 'kekinian'. Kita sering berpikir bahwa percakapan formal hanya berlaku di wilayah kantor saja, padahal tidak. Kemampuan berbahasa yang baik akan membuat kita lebih mudah menyampaikan maksud. Buku fiksi yang baik tidak menghilangkan poin-poin penting ini, jadi bukan hanya sekedar makanan ringan yang disantap tanpa perlu banyak berpikir. Meskipun, sah-sah saja jika ingin menikmati snacks, penfi pun doyan kripik. Anggap saja vitamin untuk otak, balance itu perlu juga kan?





2. Meningkatkan Imajinasi


"Logic will get you from A to Z; Imagination will get you everywhere." - Albert Einstein
Kenapa imajinasi ini sangat penting? Imajinasi membantu kita untuk berinovasi dan berkreasi, lepas dari kotak-kotak yang selama ini kita tinggali. Tanpa imajinasi, kita tidak akan bisa melakukan berbagai inovasi seperti komputer, smartphone, atau model mobil terbaru, gaya fashion terkini, dll. Apalagi sekarang ini kita hidup di dunia modern yang serba cepat sehingga jika ingin bertahan maka dibutuhkan beberapa kreatifitas dan inovasi, bukan hanya logika saja. Selain itu, kalian pasti pernah jadi bocah kan? Kalau lupa, silahkan lihat bagaimana anak-anak bermain? Betapa bahagianya mereka ketika loncat ke sana-sini sambil berkhayal melawan naga. Kalau ada yang menyebut "ya tapi itu kan dulu, kita bukan anak-anak lagi sekarang." yah kenapa tidak? Kebijaksanaan terbesar terkadang datang justru dari anak-anak. Jika sudah besar, jangan lupakan perasaan menjadi anak-anak. Karena ada perbedaan antara 'anak-anak' dan 'kekanak-kanakan', yang satu adalah mengenai ketulusan sedangkan yang satunya lagi berarti kepura-puraan.



3. Melatih Empati


Beberapa psikolog telah menyatakan bahwa membaca buku fiksi dapat melatih kita mendeteksi dan memahami emosi orang lain. Membaca buku fiksi membuat kita melihat dari berbagai karakter, menyelami kehidupan mereka, dan merasakan hal-hal yang mereka alami. Sesuatu yang jarang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan sesama sehingga mudah untuk menghakimi. Bahkan jika tokoh tersebut berperan sebagai penjahat. Kita jadi tahu apa-apa saja yang menjadikan mereka berperilaku sedemikian rupa. Manusia memiliki berbagai macam emosi, sedih karena putus cinta berbeda dengan sedih karena meninggalnya orang terkasih, lebih berbeda lagi dengan sedih karena makanan habis tapi masih lapar. Kalian akan belajar nama-nama emosi baru dalam buku fiksi, yang tentu saja tidak bisa ditemukan dalam buku non-fiksi.



4. Menghilangkan Stress


Lebih daripada olahraga, mendengarkan musik, atau jenis relaksasi lain, membaca buku terbukti meredakan stres hingga 68%. Katanyaaaaa..... Tentu saja setiap orang berhak melakukan kegiatan masing-masing yang disukai sebagai pelepas stres. Tapi kenapa membaca buku yang lebih banyak meredakan stres dibandingkan yang lain? Mari kita bicara hormon. Ada berbagai jenis hormon diproduksi tubuh untuk meningkatkan kebahagiaan, hormon ini terutama adalah serotonin, endorfin, dan dopamin. Bagian tubuh mana yang memproduksi hormon? Otak. Jadi bisa disimpulkan bahwa Otak adalah sumber dari setiap kebahagiaan yang kita peroleh. Membaca buku bisa merangsang kinerja otak untuk memproduksi hormon-hormon tersebut dan mengalirkan relaksasi ke seluruh tubuh. Ini menjadi hiburan tersendiri bagi para pembaca ketika membutuhkan ketenangan sejenak dari tekanan-tekanan yang menghimpit. Jika otak sudah tenang, maka kita bisa menyelesaikan masalah dengan lebih baik.



5. Membuka Wawasan


Membaca bisa membuatmu melanglang buana ke pelosok dunia sampai seolah-olah rohmu berjalan-jalan ke sana sedangkan tubuhmu sedang duduk atau tiduran. Ada begitu banyak negara di dunia ini, banyak budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, cara bicara yang berbeda, selera humor yang berbeda. Duniamu, secara otomatis, tidak hanya ada di satu wilayah saja, tapi ada dimana-mana sambil menyelami kehidupan yang berbeda-beda. Jika ada yang mengatakan, "ah nonton dokumentasi travelling aja juga bisa!", iya tentu saja bisa, tapi jika kamu bisa membentuk dunia di kepalamu sendiri, bukankah lebih asyik? Apalagi, jika dunia itu sangat berbeda dari dunia sekarang yang terkekang oleh sistem. Free your mind, you'll see wonders.... Bebaskan benakmu, kau akan menemukan keajaiban...





Komentar