Novel Klasik Bertema Distopia Wajib Baca

Sir Thomas More, penulis sekaligus penasihat Raja Inggris menerbitkan bukunya yang berjudul "Utopia" pada abad ke-16, sebagai pengharapan atas dunia yang lebih damai tanpa kekerasan dan kemiskinan. Kisah dunia utopis bisa ditemukan sejauh 380 SM dalam buku Plato yang berjudul "The Republic" yang akhirnya mempopulerkan kerajaan Atlantis. Pada abad ke-19, seorang ahli filsafat asal Inggris menggunakan lawan kata dari utopia menjadi distopia, yang berarti sebuah dunia yang dikuasai pemerintahan opresif, ketimpangan status sosial, kemiskinan masal, dll. Pada abad ini pula-lah tema distopia menjadi semakin populer sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintahan yang dituangkan dalam literasi fiksi dan bisa juga dianggap sebagai peringatan terhadap ideologi-ideologi yang ekstrim.  

Nah, mari kita tengok novel-novel distopia yang menggemparkan dunia literasi sampai saat ini dan masih akan relevan untuk masa yang akan datang: 



1. Erewhon by Samuel Butler

Tentang seorang pria 'nyasar' ke sebuah negeri yang disebut Erewhon dan menyaksikan beberapa kemajuan teknologi mesin dan sistem pemerintahan yang menurutnya 'baru'. 

Fakta Seru: Erewhon adalah kebalikan dari kata Nowhere yang berarti tidak berada di mana pun, meski huruf 'w' dan 'h'-nya tidak ikut dibalik. Awalnya buku ini diterbitkan tanpa nama pada tahun 1872 dan isinya yang dibagi 3 bagian lebih menyerupai buku The Gulliver's Travel karya Jonathan Swift yang terbit tahun 1726. Para ahli literasi menganggap buku ini adalah bentuk satire dari pemerintahan Inggris yang baru saja memulai era industri dengan teknologi mesin.

Karya Butler yang lain: Samuel Butler menulis sekuel Erewhon dengan judul Erewhon Revisited diterbitkan pada tahun 1901. Beliau juga menerjemahkan naskah Iliad dan Odyssey karya Homer yang masih digunakan sampai sekarang.



2. The Republic of the Future by Anna Bowman Dodd

Kisah seorang pria Swedia berkunjung ke New York di mana sistem pemerintahannya berganti menjadi sosialisme pada tahun 2050. Dalam surat-menyurat kepada temannya diberitahukan bahwa, New York telah menjadi negara konformis, rumah-rumah berbentuk sama, pakaian yang dikenakan juga mirip-mirip, masyarakatnya bekerja hanya 2 jam dalam sehari dan amat sangat menegakkan kehidupan yang biasa-biasa saja. Jadi semua ilmuwan, pelajar, seniman, penulis, atau mereka yang berbakat dan pintar akan dikucilkan dari masyarakat. Anak-anak diurus di tempat-tempat penitipan anak sehingga tidak ada hubungan emosional antara keluarga. Kemajuan teknologi pada zaman ini diceritakan hanya sedikit.

Fakta Seru: Anna Bowman Dodd menulis novel ini sebagai reaksi atas maraknya novel-novel bertema utopia pada zaman itu. Ketika itu dunia sedang mengalami goncangan ekonomi yang disebut Depresi Besar sehingga banyak penulis yang mendambakan tatanan dunia utopia. Menurutnya dunia utopia hanya akan membuat manusia kehilangan tujuan hidup. Buku ini diterbitkan pada tahun 1887.

Karya Dodd yang lain: Beliau menulis banyak kisah-kisah perjalanan, novel berjudul Glorinda, dan beberapa artikel mengenai seni dan politik.



3. Caesar's Column by Ignatius Donnelly

Gabriel Weltstein menulis surat pada saudara laki-lakinya mengenai kunjungannya ke New York pada tahun 1988. Dia datang dari Uganda dan ingin berdagang wol langsung ke pasar Amerika Serikat. Di sana dia melihat kemajuan teknologi yang bisa ditemukan sekarang, seperti memilih menu dari televisi, dan koran elektronik. Semua rakyatnya tampak kaya dan makmur sampai dia bertemu seorang pengemis yang ternyata merupakan anggota dari kubu pemberontak. Gabriel kemudian diajak untuk melihat kenyataan dibalik dunia utopia yang dilihatnya, ternyata ada tindakan-tindakan opresif dari penguasa oligarki dan para aristokrat yang menguasai negara.

Fakta Seru: Ketika diterbitkan buku ini dibuat dengan nama samaran yaitu Edmund Boigsgilbert, M.D. pada tahun 1890. Donnelly sangat menentang kapitalisme oligarki dan berjuang keras menyuarakannya kepada pembaca Amerika Serikat. 

Karya Donnelly yang lain: pada tahun 1882 Donnelly menerbitkan buku Atlantis: The Antediluvian World berisi teori-teori mengenai pulau Atlantis yang disebut Plato dalam bukunya. Setahun setelahnya dia menerbitkan buku Ragnarok: The Age of Fire and Gravel yang meneruskan teori dari buku pertamanya. Keduanya diterima dengan baik meskipun kalangan ilmuwan membantah teori dalam buku tersebut. 



4. When the Sleeper Wakes by H.G. Wells

Seorang pria Inggris bernama Graham, pada tahun 1897 meminum obat tidur untuk mengatasi insomnia yang dideritanya. Tetapi dia malah jatuh dalam keadaan koma dan baru bangun pada tahun 2100. Ketika bangun, dia menemukan dirinya adalah orang yang sangat kaya. Kekayaannya disimpan dalam bentuk dana perwalian (Trust Fund) dan dijaga atau diurus oleh sebuah lembaga yang disebut Dewan Putih. Mereka telah menggunakan dana perwaliannya untuk membentuk suatu pemerintahan politik dan ekonomi yang sukses. Fakta bahwa Graham kini terbangun sangat mengejutkan banyak orang karena dia dianggap legenda, tapi Dewan Putih-lah yang paling terkejut sehingga Graham tidak dibiarkan keluar dari rumahnya. Sekelompok pemberontak kemudian membebaskannya dan membawanya ke markas organisasi. Di sana dia mengetahui lebih jauh tentang Dewan Putih dan kenyataan di balik pemerintahan plutokrasi (pemerintahan yang dibentuk oleh sekelompok orang kaya).

Fakta Seru: Kisah ini diterbitkan di sebuah koran bergambar pada tahun 1898 dan dibuat bersambung hingga tahun 1903. Tapi Wells tidak puas dengan hasilnya kemudian kisahnya direvisi dan diterbitkan ulang tahun 1910 dengan judul The Sleeper Awakes. Wells menulis novel ini sebagai kritik terhadap kapitalisme. Dia juga menambahkan isu revolusi yang tak seindah bayangan dan betapa kaum elit bisa memperdaya rakyat dengan dua cara sekaligus yaitu pemaksaan dan pengurangan kemiskinan yang didapat dengan kemajuan teknologi dan rasa nyaman. Sesuatu yang bisa kita temukan sekarang. Buku ini menjadi pengaruh besar terhadap novel 1984 George Orwell dan Brave New World Aldous Huxley.

Karya Wells yang lain: Wells menulis cerpen-cerpen dengan latar belakang dunia yang sama dengan The Sleeper Awakes berjudul A Story of the Days to Come. Selain ini, Wells banyak menulis buku bertema Utopia dan Apocalyptic seperti The Shape of Things To Come, In the Days of the Comet, The First Men in the Moon, The World Set Free, dll. Novelnya yang lain, The Time Machine, juga memiliki unsur distopia-utopia karena adanya 2 jenis manusia tersisa di bumi, satu tinggal di permukaan dan hidup makmur berleha-leha, satu lagi tinggal di bawah bumi dan yang melakukan semua pekerjaan.



5. We by Yevgeny Zamyatin

Pada masa 1000 tahun setelah Satu Negara (One State) berhasil menguasai seluruh penduduk bumi dan menjadikan semua negara-negara berada dalam satu kekuasaan saja, mereka membangun sebuah pesawat ruang angkasa agar bisa menjelajahi planet-planet dan bermaksud menguasainya juga. Seorang kepala teknisi, D-503, membuat sebuah catatan harian yang berisi niatnya untuk ikut dalam pesawat tersebut. Maka kisah pun berpusat pada sang teknisi. Di mana dia bertemu seorang wanita dan perilaku wanita itu membuatnya terkejut karena dilarang pemerintah. Lalu wanita itu membawanya untuk menemui kelompok pemberontak dan kisah berkembang lebih jauh lagi. Satu hal yang unik dari novel ini adalah Satu Negara, merupakan bentuk pemerintah mutlak setelah perang besar selama 200 tahun yang memusnahkan hampir seluruh penduduk dunia dan menyisakan hanya 20%nya saja. Jadi mereka semua hidup dalam satu daerah yang dikelilingi Tembok Hijau, tiap penduduk diberi angka-angka seperti D-503, O-90, I-330 sebagai ganti nama, setiap jam aktivitas hidup mereka diatur dalam 'Jadwal' (The Table). Mereka semua hidup diatur dengan ketat oleh Satu Negara, bahkan hal-hal remeh seperti jodoh, kunjungan kencan, membuat anak, dll. Mereka juga hidup dalam satu bangunan yang semuanya terbuat dari kaca transparan dan diberitahu bahwa Satu Negara mengawasi mereka semua. Maka tak heran jika D-503 terkejut melihat ada seseorang yang merokok, minum bir, dan merayunya secara seksual tanpa izin dari Satu Negara. Dalam komunitas ini, bermimpi juga dianggap sebagai penyakit mental.

Fakta Seru: Zamyatin adalah penulis asal Rusia dan dia menulis novel ini ketika sedang mengalami revolusi Rusia pada tahun 1905-1917. Setelah buku ini selesai pada tahun 1921, pemerintahan Uni Sovyet melarangnya, sehingga dia menyelundupkannya ke Barat agar bisa diterbitkan. Tahun 1924 buku ini terbit dalam versi bahasa Inggris di Amerika Serikat, dan baru pada tahun 1988 buku ini boleh beredar di Rusia. George Orwell dan Aldous Huxley juga terinspirasi dari novel ini, sehingga 8 bulan setelah membaca edisi Perancisnya, Orwell mulai menulis bukunya yang populer 1984. Sementara Zamyatin sendiri mendapat inspirasinya dari novel The Iron Heel karya Jack London tentang negara yang dikuasai kelompok oligarki hingga jurang sosial antara yang kaya dan yang miskin jadi semakin jauh dan novel-novel utopia H.G. Wells. Kedua novel Jack London dan Zamyatin menjadi awal novel distopia modern yang tidak menggabungkan tema fiksi ilmiah. Buku ini juga telah menginspirasi Ayn Rand dalam bukunya Anthem (1938) di mana konsep individualitas dilarang dan rakyatnya hanya boleh menyebut diri sendiri sebagai "kami, kita, atau mereka", penggunaan nama dihapuskan diganti kode angka, dan semua pekerjaan serta istri/suami akan dipilihkan oleh pemerintah. 

Karya Zamyatin yang lain: Sebelum menulis We, Zamyatin menulis karya satire tentang kampung halamannya di Rusia. Setelah novel We, Zamyatin menulis karya satire lain dalam bentuk dongeng. Tapi tidak ada yang sepopuler dan berpengaruh seperti We



6. Brave New World by Aldous Huxley

Dunia dalam buku terjadi pada tahun 632 AF (2540 Masehi). AF atau After Ford diambil dari Henry Ford, dianggap dewa pada kehidupan bermasyarakat pada zaman itu karena beliau adalah orang yang telah menciptakan prinsip-prinsip Kontrolir Dunia (WorldState), di mana masyarakatnya hidup sukses dan puas. Pada zaman ini, kelahiran alami diambil alih oleh mesin, dan masyarakatnya terbagi dalam 5 kasta: Alpha, Beta, Gamma, Delta, dan Epsilon. Mereka diprogram untuk menyukai pekerjaan yang ditunjuk oleh Kontrolir Dunia, mencintai tempat mereka di masyarakat, dan memercayai bahwa kelas sosial mereka adalah yang terbaik untuk keunggulan masing-masing individu. Dalam masyarakat ini semuanya hidup bahagia tanpa ada kekurangan apapun dan jika tidak bahagia maka akan ada obat untuk mengatasinya tanpa efek samping. Kontrolir Dunia melarang rakyatnya membaca buku dan menghabiskan waktu sendirian karena pemikiran individu yang berbeda dari lingkungan sosial juga dilarang. Lalu muncullah seorang pria dari kasta Alpha bernama Bernard Max yang merasa 'berbeda' dan dia mengajak kekasihnya dari kasta Beta untuk berlibur ke Komunitas Barbar dan mengajaknya bereproduksi secara alami seperti orang-orang dari Komunitas tersebut. Masalah pun muncul setelah mereka bertemu John yang hidup dalam komunitas dan kembali ke Brave New World.

Fakta Seru: Henry Ford adalah tokoh nyata yang telah menciptakan perusahaan mobil Ford di Amerika Serikat. Beliau dijadikan tokoh sentral dalam buku karena telah berusaha menciptakan komunitas industri di kota Aveiro, Brazil, dengan julukan Fordlandia. Ford membeli wilayah sekitar 14,000km2 dan rencananya akan ditinggali oleh 10,000 penduduk untuk melindungi perkebunan karet (yang digunakan untuk membuat ban bagi industri mobilnya). Daerah tersebut dibuka pada tahun 1928 tetapi gagal pada tahun 1934 dengan hanya menyisakan 90 penduduk saja hingga akhir tahun 2000. Pada tahun 2017 sudah ada sekitar 2000 penduduk tinggal di sana setelah pemerintah Meksiko mengembangkannya.       
Fakta Seru 2: Setelah terbit pada tahun 1932, buku ini dilarang beredar di Irlandia dan India. Beberapa guru dan sekolah mendapat sanksi setelah memberikan buku ini pada murid untuk dipelajari. Terdapat klaim plagiarisme dari kritikus Polandia Antoni Smuszkiewicz yang menyatakan buku ini sangat mirip dengan novel The City of Light terbit tahun 1924, karya Mieczyslaw Smolarski. 

Karya Huxley yang lain: Huxley menulis essay berjudul Brave New World Revisited dan kemudian menulis versi berbeda dari Komunitas Barbar dalam novel dengan judul The Island



7. Nineteen Eighty-Four (1984) by George Orwell

Berlokasi di sebuah provinsi Airstrip One, dahulu bernama Inggris Raya, yang kini tergabung dalam suatu pemerintahan besar dan total disebut Oceania. Disebutkan negara tersebut berada dalam kondisi perang terus-menerus, dengan warganya diamati lewat kamera di mana saja secara terus-menerus, menciptakan jargon-jargon baru yang disebut Newspeak, juga manipulasi publik besar-besaran misalnya dengan menyebutkan 2+2=5 sebagai kebenaran mutlak. Negaranya dikontrol oleh sekelompok elit yang disebut Partai Lingkar Dalam yang melarang adanya pikiran-pikiran individu hingga menyebutnya 'kejahatan pikiran' dan jika ada akan ditangkap oleh 'polisi pikiran'. Pemimpinnya secara konstan disebut Bung Besar (Big Brother) yang menginginkan kekuasaan mutlak bagi dirinya sendiri. Lalu pada dunia ini muncullah seorang pria bernama Winston Smith, salah satu anggota dari Partai Lingkar Luar yang bekerja pada Kementrian Kebenaran. Kementrian tersebut bertanggungjawab pada pengolahan kalimat-kalimat propaganda untuk kepentingan Bung Besar dan merevisi sejarah dunia (menghapus salinan sejarah asli dan menggantinya dengan yang baru sesuai dengan kepentingan Bung Besar). Meskipun Winston adalah pekerja yang rajin dan ulet, dia diam-diam membenci pemerintah dan berharap bisa memberontak.

Fakta Seru: Orwell membuat novel ini dengan sikap pesimistis terhadap pemerintahan Inggris. Beliau mengkhawatirkan demokrasi di Inggris akan jatuh dan digantikan oleh para fasis. Tokoh Bung Besar terinspirasi oleh Joseph Stalin, pemimpin tiran Uni Sovyet pada masa itu. Dan negara Oceania didasarkan pada USSR. Buku ini diterbitkan pada tahun 1949. 

Karya Orwell yang lain: Animal Farm (1945) adalah novel yang juga mengangkat tema distopia tetapi dalam bentuk alegori di mana tokoh-tokohnya digambarkan dalam bentuk hewan. Sebelumnya Orwell juga menulis Coming Up to Air (1939) yang berupa satire atas kekecewaannya terhadap kapitalisme di Inggris.



8. Fahrenheit 451 by Ray Bradbury

Guy Montag adalah seorang fireman (dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi pemadam kebakaran tetapi kali ini artinya secara harfiah adalah manusia api), tapi pekerjaannya adalah membakar buku-buku dan dia bangga dengan pekerjaannya itu. Dikisahkan negara yang Guy tinggali sedang dalam masa perang dan pemerintahnya menuntut setiap warga untuk patuh. Setiap propaganda untuk mendukung pemerintah disampaikan lewat televisi yang bisa berkomunikasi langsung dengan penontonnya. Lalu Guy Montag bertemu dengan seorang gadis kecil yang mengucapkan hal-hal aneh. Hal-hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Hal-hal yang bisa ditemukan di dalam buku. Buku yang dilarang oleh pemerintah karena bisa membantu tiap individu berpikir sendiri. Guy akhirnya harus memutuskan apakah dia ingin terus tunduk pada doktrin pemerintah atau bergabung dengan para pemikir.

Fakta Seru: Bradbury menerbitkan novel ini pada tahun 1953, ketika Amerika dan Uni Sovyet melakukan Perang Dingin sejak tahun 1947. Seorang senator bernama Joseph McCarthy dengan suara lantang melarang adanya ucapan simpati terhadap Uni Sovyet atau warganya karena takut akan mata-mata. Dia juga mengancam akan membakar buku, yang membuat Bradbury sangat khawatir. Pada tahun-tahun berikut, Bradbury mengaku ada alasan lain bahwa dia juga khawatir dengan bangkitnya media televisi yang akan mengurangi minat membaca buku.

Karya Bradbury yang lain: Bradbury juga terkenal atas kumpulan cerpen fiksi ilmiahnya dalam buku The Martian Chronicles (1950) tentang bumi yang tidak bisa ditinggali karena perang nuklir dan manusia yang tersisa harus mengungsi ke planet Mars tetapi di sana mereka juga mengalami masalah dengan penduduk asli Mars. The Illustrated Men (1951) tentang kemajuan teknologi dan efeknya terhadap psikologi manusia. I Sing the Body Electric (1969) tentang pria yang melakukan perjalanan waktu.  



9. Lord of the Flies by William Golding

Sebuah pesawat jatuh di pulau terpencil dan beberapa orang yang selamat adalah anak-anak laki-laki di pertengahan usia remaja. Dengan cepat anak-anak ini mengambil keputusan-keputusan untuk bertahan hidup. Dimulai dari bocah bernama Ralph yang menggunakan cangkang keong sebagai terompet untuk mengumpulkan orang-orang dan dideklarasikan menjadi 'ketua'. Dia membagi-bagi tugas kepada anak-anak lain untuk mengumpulkan makanan, membuat tempat berteduh, dan membuat asap agar ada pesawat atau kapal yang melihat dan menyelamatkan mereka. Tetapi kegiatan itu dengan cepat berubah karena ada beberapa anak yang tidak melakukan tugasnya dan mulai menyebarkan paranoia bahwa ada 'monster' di dalam hutan. Novel ini menjadi gambaran atas kepemimpinan dalam sebuah komunitas dan pembaca akan diajak untuk memilih siapa di antara anak-anak yang berhak menjadi pemimpin.

Fakta Seru: Buku ini ditulis Golding sebagai reaksi atas novel anak-anak bertema petualangan, The Coral Island karya R.M. Ballantyne yang satu tema dengan Robinson Crusoe. Dalam The Coral Island ada 3 anak laki-laki yang terdampar di pulau terpencil setelah mengalami kecelakaan kapal laut. Hanya saja di buku itu tidak ada kegemparan dan kengerian ala Golding. Judul buku Lord of the Flies (artinya, tuan bagi makhluk bersayap) merupakan julukan yang diberikan kepada Beelzebub, dewa pagan yang ditransformasi menjadi iblis dalam agama Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1954.   

Karya Golding yang lain: Pada tahun 1980 Golding menulis Rites to Passage tentang pria Inggris yang bermigrasi ke Australia pada abad ke-19. Buku ini mendapat penghargaan bergengsi Booker Prize dan dijadikan trilogi To the Ends of the Earth dengan kedua buku lain yang berjudul Close Quarters (1987), dan Fire Down Below (1989).



10. The Chrysalids by John Wyndham

Beberapa ribu tahun di masa depan, setelah mengalami bencana yang memusnahkan hampir seluruh penduduk dunia, kota Labrador akhirnya menjadi lebih aman ditinggali manusia lagi. Penduduk kota Labrador hanya ingat sedikit tentang "Manusia Kuno" di masa lalu dengan teknologi canggih mereka yang kemudian dihukum Tuhan karena dosa-dosa mereka. Penduduk di masa ini hidup tanpa bantuan teknologi sama sekali dan fundamentalisme menjadi peraturan baku di masyarakat untuk menghindari amarah Tuhan seperti yang dulu pernah terjadi. Mereka memiliki prinsip untuk hidup "normal" sehingga melarang adanya perbedaan baik fisik maupun perilaku. Ketika ada manusia yang memiliki mutasi genetik misalnya seperti kelebihan satu jari tangan maka dituduh sebagai pekerjaan Iblis dan penistaan terhadap Tuhan. Mereka yang berbeda akan dibunuh, disteril (dibuat mandul), atau diasingkan ke luar kota di mana alam liar telah mengambil alih. Masalah mulai muncul ketika David, seorang anak berumur 10 tahun dan banyak anak-anak lain memiliki kemampuan telepati. Apakah David lebih aman tinggal di dalam kota dan menyembunyikan kemampuannya atau lebih baik lari?

Fakta Seru: Buku ini terbit pada tahun 1955 dan diterbitkan di Amerika dengan judul Re-Birth. Labrador adalah kota kecil di Kanada.

Karya Wyndham yang lain: Beberapa bukunya yang lain mengangkat tema paska kiamat yang juga populer seperti The Kraken Wakes (1953) tentang invasi alien dan The Midwich Cuckoos (1957) tentang satu kota kecil yang pingsan bersamaan dalam satu kurun waktu dan ketika terbangun, setiap wanita di kota itu mengandung anak. Anak yang lahir diketahui memiliki kemampuan telepati dan tidak memiliki gen manusia.    



11. A Clockwork Orange by Anthony Burgess

Kisahnya bermula di Inggris pada tahun 1995, mengenai seorang pemuda bernama Alex DeLargo yang melakukan kegiatan kriminal seperti kekerasan dan pemerkosaan, yang juga menyukai musik klasik. Dia adalah pemimpin dari geng perundung yang mencuri, mengerjai orang lain, bolos sekolah, mabuk-mabukan, dll. Ketika hendak mencuri rumah seorang wanita, Alex dipergoki si empunya rumah dan dia kabur dengan memukul kepala wanita tersebut. Di luar rumah, anggota gengnya malah memukulnya dan meninggalkannya sehingga dia ditangkap polisi. Di dalam penjara dia mendaftar untuk dijadikan bahan percobaan dari pemerintah agar masa tahanannya berkurang. Percobaan itu diharapkan dapat mengubah perilaku seseorang dari buruk menjadi baik. Tapi percobaan itu ada efek sampingnya juga. Novel ini membuat pembaca jadi bertanya-tanya apakah artinya kebebasan itu.

Fakta Seru: kata Orange dari judul kemungkinan bukan berarti warna jingga tapi permainan kata yang berasal dari kata 'orang' (bahasa Melayu). Burgess banyak menggunakan jargon-jargon baru yang disebut Nadsat, merupakan campuran bahasa Slavia, Rusia, dan Inggris. Buku ini terbit pada tahun 1962.

Karya Burgess yang lain: Burgess banyak menulis untuk komik, menerjemahkan naskah-naskah, dan novel-novel lain bertema sosial politik.



12. The Running Man by Richard Bachman

Di Amerika tahun 2025, ketika perekonomian runtuh, kekerasan merajalela, dan pemerintahan berbentuk mutlak. Orang-orang yang masuk daftar hitam oleh pemerintah akan dibawa ke sebuah wilayah hancur dikelilingi tembok untuk bertahan hidup. Tak hanya itu, mereka harus saling membunuh sampai hanya tinggal satu-satunya yang hidup untuk mendapatkan hadiah. Aksi tersebut direkam dan dijadikan acara televisi reality show yang ditonton semua penduduk seperti suatu permainan. Ben Richard, seorang reporter TV, mendaftarkan dirinya ke dalam permainan tersebut demi putrinya yang sakit.

Fakta Seru: Richard Bachman adalah nama samaran Stephen King dan buku ini diterbitkan pada tahun 1982. Terdiri dari 101 chapter dengan tiap chapternya merupakan hitungan mundur dari para kontestan yang selamat. Buku ini menginspirasi Koushun Takami dengan novelnya Battle Royale yang terbit tahun 1999 dan The Hunger Games karya Suzanne Collins terbit tahun 2008. 

Karya King yang lain: Dalam nama Bachman, King menerbitkan buku Rage, The Long Walk, Road Walk, dan The Dark Half bertema horor. 



13. The Handmaid's Tale by Margaret Atwood

Berlatar belakang di Amerika di masa depan ketika pemerintahan Amerika Serikat runtuh dan digantikan oleh pemerintahan totaliter baru yang berbasis pada agama Kristen fundamentalis. Di negara ini, wanita tidak boleh membaca dan harus patuh pada laki-laki. Penggunaan teknologi juga dilarang, semua aktivitas kembali pada cara-cara tradisional. Kecuali bagi mereka yang berada di lingkungan elit. Wanita muda yang tersisa dikumpulkan menjadi pelayan dan dikirim ke rumah-rumah kalangan elit untuk dijadikan mesin penghasil anak, karena kemandulan menjadi hal yang umum terjadi pada saat itu. Mereka yang mencoba lari dan tidak patuh akan dihukum mati.

Fakta seru: The Republic of Gilead yang diciptakan Atwood dalam novel terinspirasi dari penelitiannya terhadap komunitas Puritan Amerika pada abad ke-16 dan ke-17. Selain kekhawatirannya terhadap pemerintahan diktator berbasis agama seperti yang sudah terjadi di Iran dan Afganistan, Atwood juga menilik masalah feminisme yang mulai menjadi masalah di Amerika pada saat itu, terakhir adalah masalah lingkungan dengan membuat epidemi kemandulan yang diderita banyak orang sehingga menurunkan jumlah populasi dunia. Novel yang mengangkat kemandulan juga ditulis P.D. James dengan judul The Children of Men diterbitkan pada tahun 1992. Sementara buku ini terbit pada tahun 1985.

Karya Atwood yang lain: Oryx dan Crake (2003) adalah novel fiksi ilmiah yang juga mendapat sambutan baik ketika seorang pria tinggal bersama sekelompok manusia pribumi yang disebut crakers. Dunia dalam novel ini negara dikuasai oleh sejumlah perusahaan multinasional yang hanya mengijinkan karyawan mereka dan keluarganya tinggal di suatu wilayah yang ditunjuk. Novel ini dilanjutkan dengan judul The Year of the Flood dan MadAddam. Selain ketiga novel ini, Atwood banyak menulis novel-novel lain yang bertema sosial.



14. The Giver by Lois Lowry

Bocah berumur 12 tahun bernama Jonas hidup di sebuah komunitas tertutup, tempat dimana tidak ada warna, memori, cuaca, bahkan bukit. Semua yang dimiliki tiap individu juga dimiliki individu lain. Mereka bekerja dan tinggal di rumah yang sudah ditetapkan dan dipilih oleh pemerintah. Demi mencapai keadilan bagi semua orang ini, pemerintah juga menghapus kedalaman emosi dan rasa sakit. Maka ketika Jonas ditunjuk sebagai Bapak Ingatan, penjaga dari sejarah masa lalu, dia kesulitan menerima stimuli indra yang perlahan-lahan dialaminya. Semuanya tampak baik sampai suatu ketika Jonas melihat efek samping dari ketiadaan emosi dan rasa sakit tersebut.

Fakta Seru: Lois Lowry lebih dikenal sebagai penulis buku anak-anak. Buku ini terbit pada tahun 1993 dan mendapat penghargaan Newberry pada tahun 1994.

Karya Lowry yang lain: Beliau menulis The Giver menjadi novel kwartet dengan judul Gathering Blue, Messenger, dan Son.  

Komentar