Selasa, 01 Juni 2021

[Bibliostation] Museum Memorabilia, Museum Konferensi Asia-Afrika

Halo, Penefiers! Bibliostation kali ini, kita akan berkunjung ke Museum Konferensi Asia-Afrika. Wah, museum seperti apa itu?


SEKILAS:

 

Sesuai namanya, Museum Konferensi Asia-Afrika adalah sebuah museum memorabilia atas peristiwa bersejarah antara Asia dan Afrika. 

Museum ini dibangun oleh Pemerintah Republik Indonesia dan berada di bawah wewenang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. sementara pengelolaannya di bawah koordinasi Departemen Luar Negeri dan Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat.

Pada 18 Juni 1986, kedudukan Museum Konperensi Asia Afrika dialihkan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Departemen Luar Negeri di bawah pengawasan Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri. Pada tahun 2003 dilakukan restrukturisasi di tubuh Departemen Luar Negeri dan Museum Konferensi asia Afrika dialihkan ke Ditjen Informasi, Diplomasi Publik, dan Perjanjian Internasional (sekarang Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik). Saat ini, UPT Museum Konferensi Asia Afrika berada dalam koordinasi Direktorat Diplomasi Publik. Museum ini menjadi museum sejarah bagi politik luar negeri Indonesia.

Untuk mengetahui lebih rinci tentang museum ini, kita perlu tahu dulu mengenai Konferensi Asia Afrika itu sendiri.

Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotelawala, mengundang para perdana menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya. Undangan tersebut diterima baik oleh semua pimpinan pemerintah negara tersebut. Pada kesempatan itu, Presiden Indonesia, Soekarno, menekankan kepada Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, untuk menyampaikan ide diadakannya Konferensi Asia Afrika pada pertemuan Konferensi Kolombo tersebut. Beliau menyatakan bahwa hal ini merupakan cita-cita bersama selama hampir 30 tahun telah didengungkan untuk membangun solidaritas Asia Afrika dan telah dilakukan melalui pergerakan nasional melawan penjajahan.

Pada 28 April – 2 Mei 1954, Konferensi Kolombo berlangsung untuk membicarakan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama. Dalam konferensi tersebut, Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, mengusulkan perlunya diadakan pertemuan lain yang lebih luas antara Negara-negara Afrika dan Asia karena masalah-masalah krusial yang dibicarakan itu tidak hanya terjadi di Negara-negara Asia yang terwakili dalam konferensi tersebut tetapi juga dialami oleh negara-negara di Afrika dan Asia lainnya. Inilah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya Konferensi Asia Afrika. 

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 – 24 April 1955 merupakan peristiwa sangat bersejarah dalam politik luar negeri Indonesia dan peristiwa besar bagi bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi hanya 10 tahun setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Dalam waktu yang singkat, bangsa Indonesia telah berani mengusulkan dan bersedia menjadi tuan rumah bagi konferensi bertaraf internasional. Yang paling penting ialah bahwa konferensi itu berakhir dengan sukses besar, baik dalam mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika maupun dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia.

Terilhami oleh kehendak untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika 1955 yang merupakan tonggak terbesar keberhasilan politik luar negeri Indonesia, maka lahirlah gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. untuk mendirikan Museum Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka, Bandung. Gagasan tersebut dilontarkan dalam forum rapat Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika tahun 1980 yang dihadiri antara lain oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gagasan tersebut mendapat sambutan baik terutama dari Presiden Republik Indonesia Soeharto. Sejak itu, salah satu aktivitas Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika adalah mewujudkan gagasan tersebut.

Gagasan pendirian Museum Konperensi Asia Afrika diwujudkan oleh Joop Ave, sebagai Ketua Harian Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, bekerjasama dengan Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjadjaran. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh PT Decenta, Bandung.

Museum Konperensi Asia Afrika diresmikan berdirinya oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1980, sebagai puncak Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika.

Bagaimana? Apakah tertarik mengunjungi museum penuh sejarah ini? Untuk masuk ke sini tidak dikenai biaya, lho! Tapi informasi terakhir yang Penfi tahu, museum ini sedang tutup karena pandemi Covid-19 yang sedang meluas. Mungkin kebetulan ada Penefiers yang di Bandung, boleh dong berbagi info terkini mengenai jadwal buka museum.


Sekian Bibliostation kali ini! Penefiers jangan lupa ada Author of the Month dan Booklicious yang juga membahas penulis dan buku berlatar Afrika, lho! Sampai jumpa!

 

 

KONTAK:

Alamat           : Jl. Asia Afrika No. 65, Braga

  Sumur Bandung, Bandung, Jawa Barat 40111

Telp./Fax.      : +62 22 42690705 / +62 22 4238031

Instagram      : @asiaafricamuseum

Situs             : asianafricanmuseum.org

 

JAM OPERASIONAL: 

Senin-Kamis   : 08.00 – 16.00 WIB

Jumat           : 14.00 – 16.00 WIB

Sabtu-Minggu : 09.00 – 16.00 WIB

Libur Nasional : Tutup

*jadwal berlaku bila tidak ada penutupan akibat pandemi

 

BIAYA:

Biaya Masuk  : Gratis

 


SUMBER DATA:

1.    http://asianafricanmuseum.org

2.    https://kemlu.go.id/portal/id/read/48/tentang_kami/museum-konferensi-asia-afrika

3.    https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/museum-konferensi-asia-afrika-saksi-bisu-kesatuan-tekad-bangsa-bangsa-asia-afrika/

4.    https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Konferensi_Asia_Afrika

5.    https://nasional.kompas.com/read/2019/04/24/14513541/konferensi-asia-afrika-saat-bandung-membuat-takjub-dunia?page=all


[Booklicious] Buku Berlatar Afrika Rekomendasi PNFI

 

Bulan-bulan sebelumnya PNFI sudah merekomendasikan buku-buku berkaitan dengan Asia, dan Eropa. Kali ini Penfi akan merekomendasikan buku dengan latar Afrika. Buku-buku dengan latar Afrika mungkin tergolong sedikit di Indonesia, yang paling dan dikenal saat ini adalah seri Orisha karya Tomi Adeyemi. Seri ini sudah PNFI bahas di Booklicious tahun lalu, lho! Selain itu masih ada kok buku lain yang akan menambah wawasan kita tentang Afrika. Apa saja itu?


THE KANE CHRONICLES

oleh Rick Riordan

Tidak bosan-bosannya Penfi rekomendasikan seri ini. Walau bukan karya oleh penulis Afrika, tapi percaya deh Rick Riordan punya bekal yang cukup untuk menghidupkan mitologi Mesir dalam seri ini.




Seri ini diceritakan dari sudut pandang dua bersaudara, Carter dan Sadie Kane. Suatu malam, ayah mereka pergi museum tentang Mesir Kuno. Karena penasaran, mereka pun mengikuti sang ayah. Ternyata, ayah mereka sedang melakukan sebuah ritual. Ritual tersebut telah membangkitkan llima dewa. Ayah mereka ditangkap dan dikurung oleh salah satu dewa yang bangkit kembali. Carter dan Sadie harus menyelamatkan ayah mereka dan berurusan dengan para dewa.

Buku ini sudah diterbitkan oleh penerbit Mizan pada 2011. Pada tahun 2020 lalu, Kane Chronicles terbit ulang dengan kover baru yang lebih menggoda, lho!


DEATHLESS TRILOGY

oleh Namina Forna

Apakah Penefiers sudah membaca seri ini? Buku pertamanya, The Gilded Ones baru diterbitkan pada awal tahun 2021 dan belum ada penerbit Indonesia yang menerbitkannya nih!

Buku ini bercerita tentang Deka yang harus mengikuti sebuah ritual ketika menginjak usia enam belas tahun. Ritual darah ini akan menentukan apakah dia layak menjadi bagian dari desanya. Deka hanya berdoa darahnya akan merah ketika ritual. Namun, ternyata doanya tidak terkabulkan. Darahnya berwarna emas dan dia harus takdir yang lebih mengerikan daripada kematian. Wah, bagaimana nasib Deka?

Buku ini mengeksplorasi Afrika Barat yang tentunya akan menambah wawasan pembaca terkait budaya dan alam di sana. Buku ini cukup populer walau baru diterbitkan. Sampai-sampai hak adaptasi filmnya sudah dibeli. Mari kita tunggu saja kehadiran filmnya dan semoga sekuelnya bisa segera terbit juga.


THE FAMISHED ROAD TRILOGY

oleh Ben Okri

Pecinta sastra mungkin tahu siapa Ben Okri. Dia adalah penulis asal Nigeria yang memenangkan Booker Prize for Fiction pada tahun 1991 melalui novelnya yang berjudul The Famished Road. The Famished Road memiliki sekuel yang berjudul Songs of Enchantment yang terbit pada 1993 dan Infinite Riches yang terbit pada 1998.



 


The Famished Road mengeksplorasi dunia nyata dengan dunia roh, memunculkan sebuah cerita yang membuat kita terperangkap antara kenyataan dan fantasi. Tidak heran, kritikus sastra menyebutnya termasuk genre magical realism. Buku ini diceritakan dari sudut pandang Azaro, seorang abiku atau anak roh. Dalam novel ini juga sempat muncul Tokoloshe, sesosok makhluk mengerikan dalam mitos Afrika.

Pada tahun 2007, buku pertama telah diterjemahkan oleh penerbit Serambi. Namun sayangnya, kedua sekuel tidak pernah diterbitkan lagi di sini.


Oh, ya, Penfi akan membahas lebih jauh tentang penulisnya, Ben Okri di Author of the Month bulan ini. Jangan ketinggalan, ya! 


Apakah Penefiers ada rekomendasi buku berlatar Afrika atau bahkan dari penulis Afrika? Jangan sungkan untuk berbagi di komentar ya! Kita akan jumpa lagi bulan depan.


[AotM] Pemenang Book Prize of Fiction 1991

 Hai Penefiers!

Kali ini Penfi mau kenalkan kalian dengan salah satu penulis asal Nigeria, Afrika. Penulis ini pernah memenangkan Booker Prize for Fiction pada tahun 1991, lho! Kepiawaiannya dalam menghasilkan dunia magic realism oleh banyak orang disetarakan dengan Salman Rusdhie dan Gabriel Garcia Márquez. Yuk, mari berkenalan dengan Ben Okri! 


Ben Okri lahir pada 15 Maret 1959 di Nigeria. Dia adalah etnis Urhobo. Ben Okri adalah salah satu penulis novel dan puisi asal Afrika yang paling dikenal saat ini. Ketika berusia dua tahun, ayahnya membawa keluarga pindah ke London untuk mempelajari hokum. Baru pada 1968, ayahnya pindah kembali ke Nigeria untuk mempraktekan hukum yang telah dipelajarinya di sana.


Saat remaja, Ben Okri mulai tertarik pada menulis puisi. Dia pun mulai menulis berbagai artikel terkait isu politik dan sosial, tetapi tidak punya kesempatan untuk dipublikasikan. Dari artikel-artikel itulah dia mulai menuangkan masalah-masalah komplek kehidupan menjadi sebuah fiksi. Beruntung, beberapa fiksi berupa cerita pendek tersebut diterbitkan dalam Koran. Pada 1978, dia pun kembali ke Inggris untuk mendalami dunia literasi di Essex University. Walau biaya kuliahnya ditanggung oleh pemerintah Nigeria sebagai bagian dari beasiswa, tetapi secara umum, dia tunawisma. Masa-masa itu termasuk paling penting sekaligus susah dalam hidupnya.

Reputasinya meningkat setelah The Famished Road diterbitkan. Draft kasar buku tersebut dibawanya ke sebuah kamar sewaan di Notting Hil, tempat dia tinggal selama tiga tahun sejak 1988. The Famished Road memenangkan Booker Prize for Fiction pada 1991. Beberapa tahun setelahnya, Ben Okri terus berkarya, termasuk menulis sekuel dari The Famished Road yang berjudul Songs of Enchantments dan Infinite Riches. Trilogi ini bercerita tentang Azaro, seorang anak roh yang melintas antara dunia roh dan dunia nyata, serta isu-isu politik dan sosial di Afrika. Pada 26 April 2012, Ben Okri menjadi wakil presiden Caine Prize for African Writing. Novel terbarunya adalah The Freedom Artist yang diterbitkan pada 2019 silam.

Selain menulis novel, Ben Okri juga dikenal dengan puisi-puisinya yang berani dan membangun. Buku puisi pertamanya An African Elegy merupakan salah satu yang terkenal. Selain itu ada Mental Fight yang telah mengisnpirasi banyak orang. Pada Januari 2021, kumpulan puisi terbarunya yang berjudul A Fire in My Head diterbitkan. Salah satu puisinya Grenfell Tower, June 2017 didengar lebih dari 6 juta kali di halaman Facebook.


TENTANG PENULIS: 

Dua tahun berselang, pada 1980, Ben Okri menulis dan menerbitkan novel pertamanya, Flowers and Shadows. Usianya masih 21 tahun. Selanjutnya dia mulai menjadi editor puisi di majalah West Africa (1983-1986) dan kontirbutor di BBC World Service (1983-1985).

Wah, Penfi semakin tertarik dengan karyanya nih! Semoga penerbit Indonesia tertarik menerbitkan bukunya juga. Oh ya, The Famished Road sudah pernah diterbitkan oleh Serambi pada 2007. Semoga saja ada yang menerbitkan ketiganya sekaligus suatu saat.

Sekian Author of the Month bulan ini. Jangan lupa kunjungi Bibliostation dan Booklicious juga ya! Sampai jumpa!

BUAH PENA:

 

Novel:

·         Flowers and Shadows (1980)

·         The Landscapes Within (1981)

·         The Famished Road (1991)

Diterbitkan di Indonesia oleh Serambi (2007)

·         Song of Enchantments (1993)

·         Astonishing the Gods (1995)

·         Dangerous Love (1996)

·         Infinite Riches (1998)

·         In Arcadia (2002)

·         Starbook (2007)

·         The Age of Magic (2014)

·         The Freedom Artist (2019)

 

*untuk karya-karya berupa kumpulan cerita pendek, sajak, dan puisi dapat dilihat pada situs pribadi Ben Okri.


DAPAT DITEMUI DI:

Twitter        : @benokri

Website        : benokri.co.uk


SUMBER DATA:

1.       https://benokri.co.uk/

2.       https://en.wikipedia.org/wiki/Ben_Okri

          3.   https://www.britannica.com/biography/Ben-Okri


Jumat, 30 April 2021

[Bibliostation] Jelajah Perpustakaan Erasmus Huis

 


Setelah tamasya virtual di pekan sebelumnya, pada pekan terakhir di April ini, Penfi masih akan mengajak kalian bertamasya lagi ke salah satu spot favorit kutu buku. Tempat ini walau ada di Indonesia, tapi punya kaitan yang erat dengan Eropa, lebih tepatnya Belanda. Perpustakaan Erasmus Huis—pusat kebudayaan—hadir bentuk persahabatan antara Indonesia dengan Belanda. Yuk, mari kenal lebih lanjut dengan salah satu perpustakaan terbaik di Jakarta ini!


SEKILAS:

Meski baru saja renovasi pada 15 November 2018, sebenarnya perpustakaan ini sudah berdiri sejak tahun 1971. Awalnya masih berlokasi di Menteng Raya No. 25, kemudian pindah ke Rasuna Said C No. 3 sejak 1981 hingga saat ini. Suasana yang nyaman dan modern ini semakin dikunjungi oleh kaum muda, lho! Dengan ada renovasi ini memang berharap dapat meningkatkan minat baca anak-anak muda. Eits, jadi Penefiers jangan ke sana cuma untuk foto-foto saja, ya!


Koleksi hingga saat ini sudah mencapai angka 15.000 yang terdiri atas buku, majalah, dan koran. Kebanyakan koleksinya dalam bahasa Belanda dan sekitar 20% adalah buku berbahasa Inggris dan Indonesia. Pokoknya untuk hal yang berkaitan dengan Belanda, di sinilah yang paling lengkap. Wah, cocok banget untuk kalian mahasiswa atau yang sedang belajar bahasa Belanda!


Jika kalian ingin mengunjungi perpustakaan ini, lokasinya tidak sulit ditemukan karena tepat berada di belakang Kedutaan Besar Belanda di Jakarta Selatan. Saat menginjakkan kaki di perpustakaan, kalian mungkin akan terpesona dengan interior perpustakaan yang begitu elegan dan tenteram. Rasanya sangat menyenangkan saat berada di antara rak-rak yang penuh buku, dan deretan tempat duduk yang bersih dan nyaman.

Perpustakaannya mewah, apakah ada biaya masuk? Tentu saja tidak. Kalian bebas masuk ke perpustakaan tanpa dipungut biaya apa pun. Namun, kalian tetap harus mematuhi peraturan umum saat berada di perpustakaan, yaitu jaga ketertiban, tidak boleh berisik, serta tidak boleh bawa makanan. Untuk meminjam buku, kalian harus membuat kartu keanggotaan terlebih dahulu. Nah, untuk itu ada biaya yang harus kalian bayar. Kalangan umum perlu bayar Rp30.000, sedangkan mahasiswa atau pelajar cukup membayar Rp 15.000 saja. Untuk keanggotaan ini, buku yang dapat dipinjam maksimal tiga buku dengan durasi peminjaman tiga minggu.


Kali berikutnya kita akan ke tempat menarik lain lagi, lho! Nantikan Bibliostation berikutnya, ya! Ada Author of the Month yang kali ini kita hadirkan penulis asal daratan Eropa dan Booklicious yang juga menghadirkan karya-karya asal penulis Eropa. Sampai jumpa!

[Booklicious] Fantasi dari Benua Biru

 


Setelah tamasya virtual ke Eropa bersama Penfi di bulan ini, apakah Penefiers semakin tertarik dengan benua tetangga kita itu? Eropa bukan hanya daratan penuh tempat indah tapi juga penuh penulis berbakat. Seberapa banyak buku yang kalian baca berasal dari penulis Eropa? Kali ini Penfi mau rekomendasi beberapa buku karya penulis Eropa yang sayang untuk dilewatkan. Yuk, kita lihat satu per satu!


THE COGHEART ADVENTURES

oleh Peter Bunzl

Siapa yang sudah baca seri ini? The Cogheart Adventure adalah seri karya Peter Bunzl yang sudah terbit empat buku. Penefiers bisa mencari tahu lebih banyak tentang Peter Bunzl di Author of the Month bulan ini, lho! Genre seri ini adalah steampunk, sebuah sub-genre dari fiksi ilmiah yang ciri khasnya adalah teknologi mesin berbasis tenaga uap.

Cerita bermula saat ayah Lily hilang setelah kapal udaranya ditabrak. Malkin, seekor rubah mekanikal milik keluarga Lily datang menyampaikan surat terakhir dari sang Ayah. Lily bertekad menemukan kembali ayahnya, sehingga melarikan diri dari rumah walinya yang jahat. Dalam pencariannya, dia dibantu oleh seorang anak lelaki bernama Robert. Perjalanan mereka penuh rintangan dan harus berhadapan dengan penjahat-penjahat yang tidak segan membunuh. Apakah Lily akan berhasil menemukan ayahnya?

Seri ini terdiri dari empat buku. Tiga buku pertama, yaitu Cogheart, Moonlocket, dan Skycircus sudah diterjemahkan oleh Bhuana Ilmu Populer pada 2019. Nah, di tahun 2021 ini, buku terakhir (untuk saat ini) yang berjudul Shadowsea sedang dalam proses penerjemahan. Jadi, sambil menunggu kehadiran buku terakhir, yuk, mari baca dulu tiga buku sebelumnya.



HIS DARK MATERIALS

oleh Philip Pullman

Mungkin ini buku yang tidak henti-hentinya direkomendasikan oleh Penfi. Pasti banyak Penefiers yang sudah tahu tentang buku ini. Seri ini sudah difilmkan pada tahun 2007, bahkan pada 2019, serial televisinya juga dirilis.

Ketika Roger menghilang, Lyra bertekad akan menemukan temannya itu. Pencariannya bersama daemon miliknya, Pantalaimon sampai ke Utara, tempat beruang-beruang berbaju besi menguasai dunia es. Selain itu masih ada penyihir dan ilmuwan yang mengerikan. Bagaimanakah petualangan Lyra akan berakhir?

Gramedia Pustaka Utama telah beberapa kali menerbitkan trilogi His Dark Materials. Paling baru, seri ini diterbit kembali pada 2018. Buku pertamanya berjudul The Golden Compass, buku keduanya The Subtle Knife, dan yang ketiga adalah The Amber Spyglass.

Sebuah trilogi pendamping His Dark Materials sudah direncanakan terbit oleh Philip Pullman dan berjudul The Book of Dust. Masing-masing menceritakan kisah sebelum, saat, dan sesudah kejadian di His Dark Materials. Gramedia Pustaka juga sudah menerbitkan buku pertamanya yang berjudul La Belle Sauvage pada tahun 2019. Sambil menunggu buku lainnya diterbitkan, yuk mari tamatkan His Dark Materials bagi yang belum membacanya.




ZOM-B CHRONICLES

oleh Darren Shan

Apakah kamu merasa pernah melihat nama penulisnya? Darren Shan adalah penulis asal Irlandia yang dijuluki master of horror. Kamu mungkin pernah membaca serinya yang berjudul Darren Shan Saga (12 buku), tentang dunia vampir atau Demonata (10 buku), tentang dunia iblis. Keduanya sudah pernah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, walau Demonata hanya berhasil diterbitkan separuh.

Kepiawaian Darren Shan dalam meramu cerita mampu membawa kengerian ke tingkat yang berbeda. Buku-bukunya tergolong sayang untuk dilewatkan menurut Penfi. Beberapa waktu lalu, Darren Shan menamatkan seri lain berjudul Zom-B Chronicles (12 buku), sebuah seri tentang dunia apokaliptik akibat serangan zombie.



Saat ini belum ada tanda-tanda penerbit akan membeli hak terjemahannya. Jadi, kalian bisa mencarinya di toko buku daring luar negeri. Sssttt.. dalam Big Bad Wolf, bazar buku terbesar di dunia, seri ini lumayan sering muncul, lho!


[AotM] Berjelajah Bersama Peter Bunzl

 


Apakah ada Penefiers yang ikut tamasya virtual bersama PNFI di bulan ini? Bulan ini Penfi menjelajahi daratan Eropa, lho! Jadi jangan kaget kalau artikel-artikel bulan ini juga berkaitan dengan Eropa, termasuk Author of the Month kali ini. Buku dari penulis ini juga tergolong baru diterjemahkan ke Indonesia. Yuk, mari kenalan dengan Peter Bunzl, penulis seri Cogheart Adventures!

 

TENTANG PENULIS:

Peter Bunzl lahir dan besar London. Dia tinggal bersama kedua orangtua, saudara perempuan, tiga ekor kucing, dan dua ekor anjing. Kesukaannya pada seni mungkin diwariskan oleh sang ibu, sehingga dia pun memilih untuk mendalami seni dan perfilman. Karena dia orang yang menggemari seni dan animasi, tidak heran dia juga hobi membaca komik. Dia bahkan mencoba membuat komiknya sendiri saat kecil. Inilah contoh karya komik terawal yang dibuatnya dulu.

Kesukaannya ini pun menjadi bagian dari pekerjaannya saat besar. Dia bekerja sebagai animator untuk berbagai keperluan komersial maupun acara televisi. Ups, dia punya gelas MA untuk bidang animasi dari National Film & Television School, lho. Keren!

Sebelum menjadi penulis buku anak, dia juga berpengalaman menyutradarai beberapa film pendek juga, lho. Contohnya Mind Games yang menjadi finalis Virgin Media Shorts Award di tahun 2008 bahkan pernah tayang di lebih dari 200 bioskop di Britania Raya.



Peter Bunzl sendiri adalah penggemar Roald Dahl. Buku Roald Dahl yang paling disukainya adalah The Witches. Selain itu, dia juga suka membaca buku Philip Pullman, Joan Aiken, Terry Pratchet, Eva Ibbotson, Ursula Le Guin, Diana Wynne Jones, J.R.R. Tolkien, C.S. Lewis, J.K. Rowling, Douglas Adams, Enid Blyton, Lewis Carroll, dan masih sangat banyak lainnya. Wow, banyak ya… dan rata-rata adalah penulis buku middle grade juga. Pantas Peter Bunzl mengawali karir penulisannya di genre middle grade juga. Para penulis ini telah menginspirasinya untuk menciptakan kisah petualangan anak miliknya.



Pembaca di Indonesia mungkin belum terlalu mengenalnya, karena buku yang diterbitkan di sini juga tergolong baru. Seri Cogheart Adventures, itulah seri yang terdiri dari empat buku karya Peter Bunzl. Genrenya tergolong jarang terlihat di Indonesia, yaitu steampunk, sebuah subgenre dari fiksi ilmiah. Bulan ini, Cogheart Adventures dibahas di Booklicious juga. Bagi yang penasaran dengan ceritanya atau ingin tahu perkembangan seri ini, jangan lupa intip-intip, ya!

Semoga ke depannya, lebih banyak buku Peter yang diterbitkan. Sstttt… baru-baru ini Peter menerbitkan buku baru berjudul Featherlight dan segera terbit buku lain berjudul Magicborn. Ternyata penulis ini lumayan produktif, nih!

Baiklah, sampai ketemu lagi di Author of the Month bulan depan. Jangan lupa kunjungi dan Bibliostation juga! Kira-kira berikutnya topik apa, ya?


BUAH PENA:

 

The Cogheart Adventures:

·         Cogheart (2016)

Diterbitkan di Indonesia oleh Bhuana Ilmu Populer (2019)

·         Moonlocket (2017)

Diterbitkan di Indonesia oleh Bhuana Ilmu Populer (2019)

·         Skycircus (2018)

Diterbitkan di Indonesia oleh Bhuana Ilmu Populer (2019)

·         Shadowsea (2019)

Stand-alone:

·         Return to Wonderland (2019)

·         Featherlight (2021)

·         Magicborn (2021/2022)

Antologi:

·         The Book of Hopes

(Kumpulan cerita pendek, puisi, dan esai yang ditulis lebih dari 100 penulis buku anak. Dapat dibaca secara gratis di literacytrust.org.uk/bookofhopes)


DAPAT DITEMUI DI:

Facebook      : Peter Bunzl Author

Instagram      : @peter_bunzl

Twitter           : @peterbunzl

Youtube        : Peter Bunzl

Website        : peterbunzl.com


SUMBER DATA:

  1.  https://www.peterbunzl.com/
  2. https://www.awesomebookawards.com/author/peter-bunzl/